Pemilu legislatif Indonesia 2009 telah dilakukan pada tanggal 09 April 2009 kemarin. Pesta demokrasi yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh banyak kalangan ini telah berakhir, tinggal menghitung suara saja partai-partai mana yang nantinya mempunyai kursi untuk duduk di legislatif, baik di tingkat kota/kabupaten, tingkat propinsi maupun tingkat pusat.
Beberapa kalangan menilai, pemilu kali ini merupakan pemilu yang paling buruk sejak pertama kali diadakan pemilu yaitu tahun 1955. Banyak sekali hal-hal yang kalau menurut saya sangat kacau, berawal dari pendataan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang carut marut antara lain pemilih ganda, orang yang sudah meninggal masih masuk dalam DPT, orang yang belum 17 tahun sudah masuk dalam DPT (ada juga balita yang masuk dalam DPT lho, aneh bukan..? ) dan yang paling parah adalah banyaknya orang yang seharusnya memiliki hak untuk memilih, tetapi “dipaksa” untuk golput karena mereka tidak terdaftar dalam DPT yang telah dikeluarkan oleh KPU, belum lagi pendistribusian logistik pemilu yang tersendat-sendat. Itulah beberapa kekurangan yang sangat kelihatan dalam pelaksanaan pemilu legislatif kemarin.
Di samping itu semua, hal yang menurut saya paling fenomenal adalah perolehan suara Partai Demokrat yang meningkat hampir 300% dibandingkan dengan suara Partai Demokrat pada pemilu 2009. Kenapa bisa demikian ? Satu hal yang jelas, dengan adanya sistem suara terbanyak ini, pragmatisme atau politik praktis sudah menjadi trend bagi rakyat Indonesia yang mayoritas masih rendah tingkat pendidikan maupun ekonominya.
Saat ini sangat sulit mencari orang yang masih rasionalis atau pun idealis, sebaliknya sangat mudah mencari orang yang pragmatis atau pun berpikir praktis dalam mensikapi suatu hal. Sebagai contoh saja, caleg yang sudah ‘ngopeni’ atau pun memelihara konstituennya sangat lama, kalah suara dengan caleg yang notabene tidak mempunyai basis massa tetapi dia memiliki cukup ‘amunisi’ untuk melakukan ‘serangan fajar’ menjelang pemilihan suara. Itu salah satu contoh pragmatisme yang telah banyak melekat pada diri rakyat Indonesia ini.
Yang menjadi pertanyaan, apakah dominasi Demokrat dengan SBYnya ini masih akan berlanjut pada pemilu presiden bulan Juli 2009 nanti ? Kita butuh waktu untuk mengetahui itu semua, yang jelas, harapan kita semoga saja KPU segera introspeksi diri dalam pelaksanaan pemilu legislatif 2009 kemarin, dan dapat memperbaiki kinerja mereka pada pemilu presiden nanti, terutama masalah DPT yang sampai saat ini masih menjadi PR besar bagi KPU. Semoga saja PR ini cepat selesai sehingga warga negara yang memang memiliki hak untuk memilih dapat menyalurkan aspirasinya dalam pemilu presiden nanti, toh, itu semua juga demi kemajuan bangsa Indonesia juga kan..??
Terakhir, setelah kita melihat hasil pemilu legislatif Indonesia 2009, bagaimana ya dengan hasil kontes kampanye damai pemilu Indonesia 2009 yang akan berakhir 01 Mei 2009 nanti ? Yang jelas, kinerja KPU dalam kontes ini pasti lebih baik dibandingkan kinerja KPU dalam pemilu legislatif kemarin dan tentunya sang KPU dapat menjaga netralitas, iya kan..??









@nakja: hmm.. emg kemana perginya sih mbak..?? menyendiri di atas gunung yaa… ??
Sekarang udah ketahuan pemenangnya, bukan pilihan saya seh..tapi ya kita dukung aja, asal jgn lupa janji2 nya.