Posted by p3ny0 on July 14th, 2009

Alkisah, di desa Antah Berantah, hiduplah sepasang suami istri, yaitu bu Susi dan pak Budi. Keluarga mereka cukup terpandang di desa tersebut. Bu Susi, walaupun seorang perempuan, tetapi dia dipercaya memegang amanah sebagai lurah di desa tersebut. Begitu juga dengan pak Budi, dia dikenal sebagai seseorang yang sangat ulet dan pandai mengatur keuangan, sehingga oleh penduduk desa pun dia ditunjuk sebagai bendahara desa.

Alhasil, setiap keluarga ibu Susi dan pak Budi mengadakan hajatan, pasti banyak tamu yang datang untuk menghadiri hajatan tersebut. Tak segan-segan para tamu tersebut memberikan sumbangan, baik itu berupa uang atau pun barang-barang untuk keperluan upo rampe hajatan seperti beras, telur, kelapa, gula dan lain sebagainya. Tak terkecuali pak Kadil, yang dianggap sebagai tokoh agama di desa tersebut, turut juga datang membantu.

Suatu saat, keluarga bu Susi dan pak Budi mempunyai hajatan ingin membangun sebuah rumah. Hal ini mereka lakukan karena mereka merasa rumah yang mereka tempati sekarang, kayaknya sudah tidak layak untuk dihuni lagi. Mereka pun akhirnya memulai pekerjaan mereka tersebut dengan memanggil beberapa tukang untuk mengerjakan pembangunan rumah mereka.

Seperti sudah diduga sebelumnya, para penduduk desa yang mendengar berita tentang pembangunan rumah ibu Susi dan pak Budi segera datang. Seperti mendapat komando, mereka berbondong-bondong datang untuk membantu sebisa kemampuan mereka masing-masing. Ada yang menyumbang uang, dan seperti kebiasaan di desa-desa, mereka banyak juga yang membawa beras, gula, kelapa, telur. Pak Kadil pun tidak ketinggalan, dia pun datang sambil membawa pasir dan batu bata.

Kedatangan para penduduk desa tersebut disambut dengan hangat oleh keluarga ibu Susi. Walaupun sebagai keluarga yang cukup terpandang di desa Antah Berantah, tetapi keluarga ibu Susi dan pak Budi dikenal juga sebagai keluarga yang lembah manah andap asor, mereka selalu menghormati dan menghargai apapun yang diberikan oleh orang lain.

Satu setengah bulan pun berlalu, pembangunan rumah ibu Susi dan pak Budi pun selesai. Mereka pun lalu berencana mengadakan pengajian di rumah barunya sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur dan ucapan terima kasih kepada penduduk yang telah rela dan ikhlas membantu dalam proses pembangunan rumah baru mereka. Diundanglah semua penduduk desa, tak terkecuali pak Kadil sebagai tokoh agama di desa Antah Berantah.

Acara demi acara pun berlalu, sampailah kepada acara terakhir. Ibu Susi pun berniat memberikan sedikit ungkapan terima kasih kepada penduduk desa dengan cara membagikan kue yang telah dia pesan siang harinya. Satu per satu tamu mendapat kue yang dibagikan oleh bu Susi. Sampailah kepada giliran pak Kadil, dia pun juga sama dengan yang lain, yaitu mendapatkan satu bagian kue yang sama.

Tapi, apa yang terjadi ? Tak disangka-sangka, pak Kadil yang selama ini dikenal sebagai tokoh agama di Desa Antah Berantah tersebut sangat marah karena cuma mendapatkan bagian kue yang sama dengan penduduk desa lainnya. Dia merasa, apa yang telah diperbuatnya selama ini terhadap bu Susi atau pun pak Budi tidak bisa disamakan dengan penduduk yang lain. Dia merasa bantuan yang dia berikan lebih banyak dibandingkan yang lainnya. Dia pun tak terima dengan pembagian kue yang sama dari bu Susi tadi.

Para penduduk desa pun sangat kaget, orang yang mereka kenal sebagai tokoh agama selama ini ternyata memiliki watak yang begitu picik dan licik. Sejak saat itu, anggapan masyarakat terhadap pak Kadil pun langsung berputar 180 derajat. Penduduk juga sudah mulai sadar, ternyata apa yang telah pak Kadil lakukan selama ini ternyata memiliki pamrih juga, bahkan hanya karena pembagian kue saja, sifat asli seorang tokoh agama yaitu pak Kadil dapat terlihat. Ketokohan pak Kadil pun mulai hilang, anggapan masyarakat terhadap pak Kadil sudah lain dengan dulu, pak Kadil pun telah dicap sebagai orang selalu memiliki pamrih, ternyata tak ada sedikit pun keikhlasan dan ketulusan dari hati pak Kadil selama ini. Ahh.. andai saja anggapan masyarakat terhadap pak Kadil ini tidak hanya terjadi di Desa Antah Berantah.. Andai saja….

Related Posts :

Tags: , , , ,

Kata Kunci Terkait: acara pembagian kue, bendahara desa, cerita ibu gurunakal, sama saya aja bu

Protected by Copyscape Unique Content Validation

6 Comments to “Kok Bagian Kue Saya Sama Bu ?”

  1. mas penyo sebagai apa di cerita diatas?? haqhaqhaqhaq…..J/K :D
    bukan hanya di negeri antah berantah mas kayak cerita di atas, di kota2 besar juga byk kok.
    juga byk kan yg awalnya menolong, tapi ada maskud lain dibelakang harinya.. apalagi kalo yg dibantu adalah seoarang cewe cakep asoy geboy…bisa ditebak kan apa yg bakal terjadi kalo yg membantu itu seperti tipe pak Kadil??
    btw, piye kabare mas penyo…?

  2. p3ny0 says:

    @Blogger Independent : yang jelas saya bukan “pak Kadil” mas.. :) saya sebagai masyarakat yg beranggapan pak Kadil punya watak licik dan picik aja mas Mike… :D

  3. Guru Nakal says:

    2x mbaca mbolak mbalik, daku masih belum ngerti Nyo. Maksute’ opo thow hehe…

  4. p3ny0 says:

    @Guru Nakal : masak ga ngerti to pak Guru ..?? si Mike aja langsung paham kok, dibaca 1x lagi deh pak Guru, pasti paham.. ga seru dunk, kalo saya jelaskan pak… :D

  5. andi says:

    bisa bikin cerita segitu panjangnya, pasti pengalaman pribadi yach????

  6. adhit says:

    hehehe kejadian kyk gini byk bgt terjadi pas pileg krmn, caleg yg gagal pada narik apa yg udah mereka berikan :D

Leave a Reply

Terima kasih kunjungannya Kawan.

Silakan tinggalkan jejak Anda di BLOG DOFOLLOW ini untuk mendapatkan backlink gratiss...

Komentar Anda tidak muncul? Mungkin masuk SPAM dan perlu saya approve manual.